Senin, 17 Maret 2014

SUAKA MARGASATWA MUARA ANGKE : YANG JAUH TERPELIHARA, YANG DIPELUPUK MATA TERLUPA ..

Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA), Menyusuri Board Walk Adalah Salah Satu Cara Untuk Mengelilingi Kawasan SMMA, Selain Dengan Menggunakan Boat, Jakarta (02/10)
 

Hiruk-pikuk keramaian Kota Jakarta menyambut kedatangan kami di stasiun kereta api Jakarta-Kota. Setelah menaiki ular besi jurusan Jakarta-Kota, Kopami jurusan Muara Karang, angkutan umum berwarna merah –sampai di depan gerbang perumahan Pantai Indah Kapuk (PIK), dan dilanjutkan dengan berjalan kaki ± 500 meter, kami sampai di kawasan hutan terakhir Ibukota Jakarta yang keberadaannya kini dihimpit oleh kawasan  perumahan elite PIK –Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA).


Meski sempat sedikit tersasar ke daerah pemukiman nelayan di pesisir utara Jakarta, kami akhirnya menemukan kawasan SMMA. Pengalaman tersasar tersebut membuat kami mengetahui sisi kehidupan lain di kota yang tidak pernah tidur ini –Jakarta. Kumuh, bau, becek, bahkan dibeberapa titik daerahnya sudah terendam oleh air laut –yang kini ketinggiannya sudah melebihi daratan menggambarkan bahwa keadaan daerah ini cukup memprihatinkan. Dengan modal bertanya-tanya dan menumpang angkutan umum warga –biasa disebut odong-odong, kami berkeliling daerah pemukiman nelayan tersebut.
Ternyata untuk mencari kawasan SMMA sebenarnya tidaklah sulit, namun karena masyarakat sekitar tidak mengetahui apa itu suaka margasatwa dan karena kawasan SMMA dulunya dikenal sebagai cagar alam, maka untuk sampai ke kawasan –pagi ini sedikit mendapat kesulitan. “Kalau yang ini bukan kawasan yang kalian cari, berarti mungkin yang ada di pinggir jalan itu kali, ya? Yang letaknya ada di dalam perumahan PIK”, jelas pak sopir odong-odong sembari menunjuk ke sebuah tempat diseberang kali. Mendengar penjelasan lelaki berusia sekitar 30 tahunan itu, kami hanya mengangguk-angguk menyetujui tempat yang akan dia tuju –untuk mengantar kami. Angin sepoi-sepoi serta udara panas setia menemani perjalanan, mobil-mobil mewah pun juga turut mengiringi perjalanan kami –yang saat ini sudah mulai memasuki kawasan perumahan PIK.
Membaca papan nama kawasan dan melihat-lihat keadaan sekitar, akhirnya membuat kami tersenyum lega karena telah berhasil menemukan kawasan SMMA. Setelah berterima kasih pada pak sopir dan membayar ongkos odong-odong sebesar Rp 3.000,-/ orang, kami mulai melangkah masuk ke dalam kawasan.
Sejak pertama kali menapakkan kaki di kawasan SMMA, kami sudah berjalan diatas jembatan kayu atau board walk yang di sisi kanan - kirinya ditumbuhi oleh vegetasi mangove. Udara di dalam kawasan begitu sejuk –berbeda saat tadi berkeliling pemukiman nelayan dan jalan raya perumahan yang panas. Kerindangan pohon, kicauan burung, dan suara monyet ekor panjang menyambut ramah kedatangan kami. Saat bertemu dengan pengelola –polhut, kami menerangkan maksud dan tujuan kedatangan saat itu. Setelah mendapat persetujuan pengelola kegiatan pun dimulai, yaitu melihat-lihat keadaan kawasan dengan berjalan di atas board walk sepanjang ± 800 meter.
  

Surga Burung Air Kedua -Katanya ...
Tanggal 17 Juni 1939 kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) ditetapkan sebagai cagar alam oleh pemerintah Hindia Belanda dengan luas awal sekitar 15,04 ha dan pada tahun 1960-an kawasan ini diperluas sampai akhirnya memiliki luas ± 1.344,62 ha. Setelah 60 tahun menyandang status sebagai cagar alam, pemerintah mengubah status kawasan menjadi suaka margasatwa, yaitu pada tahun 1998 dengan tujuan untuk merehabilitasi kawasan yang rusak karena meningkatnya tekanan dan kerusakan lingkungan dari dalam maupun luar kawasan. Perubahan status ini telah ditetapkan melalui SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 097/Kpts-II/1998 sebagai Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) dengan total luas 25,02 ha. Meski SMMA adalah suaka margasatwa terkecil di Indonesia, namun peranannya untuk lingkungan sekitar sangatlah penting. Bahkan BirdLife International –salah satu organisasi pelestarian burung di dunia memasukkan kawasan SMMA ini sebagai salah satu daerah penting bagi burung (IBA, Important Bird Areas) di Pulau Jawa.
Kawasan SMMA yang merupakan habitat aneka jenis burung dan berbagai satwa lain yang telah sulit ditemukan di wilayah Jakarta, membuat Green Monster mencatat adanya 91 jenis burung, yaitu 28 jenis burung air dan 63 jenis burung hutan yang hidup di kawasan ini. Sekitar 17 jenis di antaranya adalah jenis burung yang dilindungi.
Jenis burung yang biasanya dijumpai di kawasan ini adalah pecuk padi kecil (Phalacrocorax niger), cangak (Ardeola spp.), kuntul (Egretta spp.), kareo padi (Amaurornis phoenicurus), mandar batu (Gallinula chloropus), betet biasa (Psittacula alexandri), merbah cerukcuk (Pycnonotos goiavier), kipasan belang (Rhipidura javanica), remetuk laut (Gerygone sulphurea) dan sikatan bakau (Cyornis rufigastra). Selain itu, kawasan ini juga menjadi rumah bagi perenjak Jawa (Prinia familiaris) dan beberapa jenis burung endemik, yang hanya ada di Pulau Jawa seperti, cerek Jawa (Charadrius javanicus) dan bubut Jawa (Centropus nigrorufus) –salah satu spesies terancam punah di dunia, dengan penyebaran terbatas di beberapa tempat saja termasuk di SMMA. “Namun, sepertinya saya agak meragukan jenis-jenis burung tersebut masih ada di kawasan ini. Melihat kondisi kawasan yang semakin memprihatinkan”, jelas polhut setempat. Melihat dan mendengar penjelasan polhut tersebut dengan perasaan sedikit kecewa kami harus meng-iya-kan bahwa mungkin saja burung-burung itu sudah tidak ada di dalam kawasan karena kami pun hanya dapat menemukan burung kuntul (Egretta spp.) disepanjang perjalanan siang ini.
Selain merupakan surga burung –katanya, kawasan SMMA juga memiliki keanekaragaman satwa lainnya dari jenis mamalia dan reptilia, seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) –yang sudah dapat dijumpai, ketika pertama kali masuk ke kawasan SMMA, biawak air (Varanus salvator), buaya serta berbagai jenis ular.
SMMA yang dulunya adalah hutan mangrove pantai utara Jawa dengan keanekaragaman jenis hayati yang cukup tinggi ini kini keberadaannya sangat terancam akibat tingginya tingkat kerusakan hutan yang hanya tinggal menyisakan 10% lahan yang tertutup oleh vegetasi pohon. Sebagian besar wilayah kawasan kini telah berubah menjadi rawa terbuka yang ditumbuhi rumput-rumputan, gelagah (Saccharum spontaneum), dan eceng gondok (Eichchornia crassipes). Pernyataan ini telah terbukti saat kami menelusuri kawasan –dengan penuh kehati-hatian karena sudah banyak kayu board walk yang rapuh.
 Saat ini telah tercatat ± 30 jenis tumbuhan dan 11 di antaranya adalah jenis pohon yang hidup di SMMA, diantaranya adalah jenis mangrove (Rhizophora mucronata, R. apiculata), api-api (Avicennia spp.), dan pidada (Sonneratia caseolaris). Beberapa jenis tumbuhan asosiasi mangrove seperti, ketapang (Terminalia catappa) dan nipah (Nypa fruticans) juga tercatat di dalamnya. Selain itu pohon lain seperti asam Jawa (Tamarindus indica), bintaro (Cerbera manghas), dan waru laut (Hibiscus tiliaceus) juga ditanam dengan tujuan untuk mereboisasi lahan. Namun, melihat keadaan yang semakin gersang dan gundul, kami agak meragukan vegetasi tersebut ada di dalam kawasan.
Menelusuri board walk disiang hari pun terasa berjalan di tengah gurun –panas terik. “Kalau naik boat untuk membawa wisatawan keliling kawasan ini kami sebagai pengelola pun harus menahan malu karena boat sering macet –karena tersangkut rerumputan dan sampah, bau dari hitamnya air rawa, dan kurangnya keanekaragaman hayati yang dapat ditemui. Biaya yang mereka keluarkan cukup besar, tapi kepuasan yang didapat kurang”, keluh polhut saat ditanya tentang keliling kawasan dengan menaiki boat

Pemanfaatan Kawasan ..

Dalam pemanfaatan kawasan di SMMA adanya kegiatan konservasi edukatif sangat diperlukan karena akan menggugah kesadaran tentang pelestarian lingkungan. Beberapa jenis kegiatan yang dapat menunjung pelestarian kawasan adalah kegiatan wisata bird watching dan fotografi.  Bagi Anda yang memiliki hobi pengamatan burung, kawasan ini dapat menjadi salah satu alternatif pilihan destinasi dengan pertimbangan lokasi dan aksesibilitas yang begitu sangat mudah untuk dijangkau. Meski sepertinya keanekaragaman burung di kawasan SMMA sudah jauh berkurang, namun dengan adanya kegiatan ini kesadaran untuk sama-sama mengembalikan –paling tidak untuk memperbaiki kawasan akan tergugah. Mengingat kawasan ini adalah kawasan hutan terakhir sekaligus jantung hijau di pesisir Jakarta.
Bagi Anda yang hobi fotogafi, kawasan SMMA juga harus masuk ke dalam list destinasi menarik pilihan Anda karena keasrian dan kealamian kawasannya. Selain untuk diamati, burung-burung yang terdapat di dalam kawasan juga dapat diburu menjadi obyek yang akan ditangkap keindahannya melalui lensa kamera. Vegetasi mangrove yang tersisa juga memiliki daya tarik tersendiri yang dapat dipadu-padankan estetikanya dengan hamparan board walk. Banyaknya wisatawan yang datang untuk melakukan foto prewedding dan majalah di kawasan ini menjadi bukti bahwa kawasan SMMA memiliki potensi alam yang tak kalah indah dari kawasan-kawasan konsevasi lainnnya. Dari hasil pemotretan tersebut, maka secara tidak langsung –siapa saja yang melihatnya akan tertarik untuk mengetahui, berkunjung, dan diharapkan juga ikutserta dalam menjaga kelestariannya. “Salah satu hasil pemotretan dapat kalian lihat pada salah satu majalah fashion –kebaya moderni ini”, info polhut, sembari memperlihatkan sebuah majalah kebaya.




                              Salah Satu Hamparan Wilayah Di Kawasan SMMA Yang Terlihat Memprihatinkan, Jakarta (02/10)



Peran serta masyarakat sekitar dalam menjaga kelestarian kawasan SMMA sangatlah diharapkan. Karena salah satu kerusakan kawasan dipicu oleh ketidakpedulian masyarakat sekitar sampai saat ini, yaitu dengan seringnya membuang sampah di kali, menaruh perahu-perahu sembarangan, dan bahkan merusak lahan. Berbagai cara telah dicoba untuk memulihkan keadaan kawasan SMMA, namun belum terlaksana secara optimal karena minimnya sumberdaya manusia dan partisipasi masyarakat. “Adanya peraturan biasanya selalu membuat orang sering melanggarnya. Itulah sebabnya kawasan SMMA tidak banyak diketahui oleh masyarakat sekitar. Hal tersebut dimaksudkan untuk meminimalisasikan tingkat kerusakan kawasan dari pemanfaatan liar masyarakat sekitar, tutup polhut tersebut (AO).
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar