Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA), Menyusuri Board Walk Adalah Salah Satu Cara Untuk Mengelilingi Kawasan SMMA,
Selain Dengan Menggunakan Boat,
Jakarta (02/10)
Hiruk-pikuk keramaian Kota
Jakarta menyambut kedatangan kami di stasiun kereta api Jakarta-Kota. Setelah
menaiki ular besi jurusan Jakarta-Kota, Kopami jurusan Muara Karang, angkutan
umum berwarna merah –sampai di depan gerbang perumahan Pantai Indah Kapuk (PIK),
dan dilanjutkan dengan berjalan kaki ± 500 meter, kami sampai di kawasan hutan
terakhir Ibukota Jakarta yang keberadaannya kini dihimpit oleh kawasan
perumahan elite PIK –Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA).
Meski sempat sedikit tersasar ke daerah pemukiman
nelayan di pesisir utara Jakarta, kami akhirnya menemukan kawasan SMMA.
Pengalaman tersasar tersebut membuat kami mengetahui sisi kehidupan lain di
kota yang tidak pernah tidur ini –Jakarta. Kumuh, bau, becek, bahkan dibeberapa
titik daerahnya sudah terendam oleh air laut –yang kini ketinggiannya sudah
melebihi daratan menggambarkan bahwa keadaan daerah ini cukup memprihatinkan.
Dengan modal bertanya-tanya dan menumpang angkutan umum warga –biasa disebut
odong-odong, kami berkeliling daerah pemukiman nelayan tersebut.
Ternyata untuk mencari kawasan SMMA sebenarnya tidaklah
sulit, namun karena masyarakat sekitar tidak mengetahui apa itu suaka
margasatwa dan karena kawasan SMMA dulunya dikenal sebagai cagar alam, maka
untuk sampai ke kawasan –pagi ini sedikit mendapat kesulitan. “Kalau yang ini
bukan kawasan yang kalian cari, berarti mungkin yang ada di pinggir jalan itu
kali, ya? Yang letaknya ada di dalam perumahan PIK”, jelas pak sopir
odong-odong sembari menunjuk ke sebuah tempat diseberang kali. Mendengar
penjelasan lelaki berusia sekitar 30 tahunan itu, kami hanya mengangguk-angguk
menyetujui tempat yang akan dia tuju –untuk mengantar kami. Angin sepoi-sepoi
serta udara panas setia menemani perjalanan, mobil-mobil mewah pun juga turut
mengiringi perjalanan kami –yang saat ini sudah mulai memasuki kawasan
perumahan PIK.
Membaca papan nama kawasan dan melihat-lihat keadaan
sekitar, akhirnya membuat kami tersenyum lega karena telah berhasil menemukan
kawasan SMMA. Setelah berterima kasih pada pak sopir dan membayar ongkos
odong-odong sebesar Rp 3.000,-/ orang, kami mulai melangkah masuk ke dalam
kawasan.
Sejak pertama kali menapakkan kaki di kawasan SMMA,
kami sudah berjalan diatas jembatan kayu atau board walk yang di sisi kanan - kirinya ditumbuhi oleh vegetasi mangove. Udara di dalam kawasan begitu
sejuk –berbeda saat tadi berkeliling pemukiman nelayan dan jalan raya perumahan
yang panas. Kerindangan pohon, kicauan burung, dan suara monyet ekor panjang menyambut
ramah kedatangan kami. Saat bertemu dengan pengelola –polhut, kami menerangkan
maksud dan tujuan kedatangan saat itu. Setelah mendapat persetujuan pengelola kegiatan
pun dimulai, yaitu melihat-lihat keadaan kawasan dengan berjalan di atas board walk sepanjang ± 800 meter.
Surga Burung Air Kedua -Katanya ...
Tanggal 17 Juni 1939 kawasan Suaka Margasatwa Muara
Angke (SMMA) ditetapkan sebagai cagar alam
oleh pemerintah Hindia Belanda dengan luas awal sekitar 15,04 ha
dan pada tahun 1960-an kawasan ini diperluas sampai akhirnya memiliki luas ± 1.344,62
ha. Setelah 60 tahun menyandang status sebagai cagar alam, pemerintah mengubah
status kawasan menjadi suaka margasatwa, yaitu pada tahun 1998 dengan tujuan
untuk merehabilitasi kawasan yang rusak karena meningkatnya tekanan dan
kerusakan lingkungan dari dalam maupun luar kawasan. Perubahan status ini telah
ditetapkan melalui SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 097/Kpts-II/1998
sebagai Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) dengan total luas 25,02 ha. Meski
SMMA adalah suaka margasatwa terkecil di Indonesia, namun peranannya untuk lingkungan
sekitar sangatlah penting. Bahkan BirdLife International –salah satu
organisasi pelestarian burung di dunia memasukkan kawasan SMMA ini sebagai
salah satu daerah penting bagi burung (IBA, Important Bird Areas)
di Pulau Jawa.
Kawasan SMMA yang merupakan habitat aneka jenis burung
dan berbagai satwa lain yang telah sulit ditemukan di wilayah Jakarta, membuat Green Monster mencatat adanya 91 jenis
burung, yaitu 28 jenis burung air dan 63 jenis burung hutan yang hidup di kawasan
ini. Sekitar 17 jenis di antaranya adalah jenis burung yang dilindungi.
Jenis burung yang biasanya dijumpai di kawasan ini
adalah pecuk padi kecil (Phalacrocorax niger), cangak (Ardeola
spp.), kuntul
(Egretta spp.), kareo padi (Amaurornis phoenicurus), mandar batu
(Gallinula chloropus), betet biasa (Psittacula alexandri), merbah
cerukcuk (Pycnonotos goiavier), kipasan
belang (Rhipidura javanica), remetuk laut
(Gerygone sulphurea) dan sikatan bakau (Cyornis
rufigastra). Selain itu, kawasan ini juga menjadi rumah bagi perenjak Jawa
(Prinia familiaris) dan beberapa jenis burung endemik,
yang hanya ada di Pulau Jawa seperti, cerek Jawa (Charadrius
javanicus) dan bubut Jawa (Centropus
nigrorufus) –salah satu spesies terancam punah di dunia, dengan penyebaran
terbatas di beberapa tempat saja termasuk di SMMA. “Namun, sepertinya saya agak
meragukan jenis-jenis burung tersebut masih ada di kawasan ini. Melihat kondisi
kawasan yang semakin memprihatinkan”, jelas polhut setempat. Melihat dan
mendengar penjelasan polhut tersebut dengan perasaan sedikit kecewa kami harus
meng-iya-kan bahwa mungkin saja burung-burung itu sudah tidak ada di dalam
kawasan karena kami pun hanya dapat menemukan burung kuntul (Egretta
spp.) disepanjang perjalanan siang ini.
Selain merupakan surga burung –katanya, kawasan SMMA
juga memiliki keanekaragaman satwa lainnya dari jenis mamalia dan reptilia,
seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) –yang sudah dapat
dijumpai, ketika pertama kali masuk ke kawasan SMMA, biawak air (Varanus
salvator), buaya serta berbagai jenis ular.
SMMA yang dulunya adalah hutan mangrove pantai utara Jawa dengan keanekaragaman jenis hayati yang
cukup tinggi ini kini keberadaannya sangat terancam akibat tingginya tingkat
kerusakan hutan yang hanya tinggal menyisakan 10% lahan yang tertutup oleh
vegetasi pohon. Sebagian besar wilayah kawasan kini telah berubah menjadi rawa terbuka yang
ditumbuhi rumput-rumputan, gelagah (Saccharum
spontaneum), dan eceng gondok (Eichchornia crassipes). Pernyataan
ini telah terbukti saat kami menelusuri kawasan –dengan penuh kehati-hatian
karena sudah banyak kayu board walk yang
rapuh.
Saat ini telah tercatat ± 30 jenis tumbuhan
dan 11 di antaranya adalah jenis pohon yang hidup di SMMA, diantaranya adalah jenis
mangrove (Rhizophora
mucronata, R. apiculata), api-api
(Avicennia spp.), dan pidada (Sonneratia caseolaris). Beberapa jenis tumbuhan
asosiasi mangrove seperti, ketapang
(Terminalia catappa) dan nipah (Nypa fruticans) juga tercatat di dalamnya. Selain
itu pohon lain seperti asam Jawa (Tamarindus indica), bintaro
(Cerbera manghas), dan waru laut (Hibiscus tiliaceus) juga
ditanam dengan tujuan untuk mereboisasi lahan. Namun, melihat keadaan yang semakin gersang dan
gundul, kami agak meragukan vegetasi tersebut ada di dalam kawasan.
Menelusuri board walk disiang hari pun terasa berjalan di tengah gurun –panas
terik. “Kalau naik boat untuk membawa
wisatawan keliling kawasan ini kami sebagai pengelola pun harus menahan malu
karena boat sering macet –karena
tersangkut rerumputan dan sampah, bau dari hitamnya air rawa, dan kurangnya
keanekaragaman hayati yang dapat ditemui. Biaya yang mereka keluarkan cukup
besar, tapi kepuasan yang didapat kurang”, keluh polhut saat ditanya tentang
keliling kawasan dengan menaiki boat.
Pemanfaatan
Kawasan ..
Dalam pemanfaatan kawasan di SMMA adanya kegiatan konservasi
edukatif sangat diperlukan karena akan menggugah kesadaran tentang pelestarian
lingkungan. Beberapa jenis kegiatan yang dapat menunjung pelestarian kawasan
adalah kegiatan wisata bird watching dan
fotografi. Bagi Anda yang memiliki hobi
pengamatan burung, kawasan ini dapat menjadi salah satu alternatif pilihan
destinasi dengan pertimbangan lokasi dan aksesibilitas yang begitu sangat mudah
untuk dijangkau. Meski sepertinya keanekaragaman burung di kawasan SMMA sudah jauh
berkurang, namun dengan adanya kegiatan ini kesadaran untuk sama-sama
mengembalikan –paling tidak untuk memperbaiki kawasan akan tergugah. Mengingat
kawasan ini adalah kawasan hutan terakhir sekaligus jantung hijau di pesisir
Jakarta.
Bagi Anda yang hobi fotogafi,
kawasan SMMA juga harus masuk ke dalam list
destinasi menarik pilihan Anda karena keasrian dan kealamian kawasannya. Selain
untuk diamati, burung-burung yang terdapat di dalam kawasan juga dapat diburu
menjadi obyek yang akan ditangkap keindahannya melalui
lensa kamera. Vegetasi mangrove yang
tersisa juga memiliki daya tarik tersendiri yang dapat dipadu-padankan
estetikanya dengan hamparan board walk.
Banyaknya wisatawan yang datang untuk melakukan foto prewedding dan majalah di kawasan ini menjadi bukti bahwa kawasan
SMMA memiliki potensi alam yang tak kalah indah dari kawasan-kawasan konsevasi
lainnnya. Dari hasil pemotretan tersebut, maka secara tidak langsung –siapa saja
yang melihatnya akan tertarik untuk mengetahui, berkunjung, dan diharapkan juga
ikutserta dalam menjaga kelestariannya. “Salah satu hasil pemotretan dapat
kalian lihat pada salah satu majalah fashion
–kebaya moderni ini”, info polhut, sembari
memperlihatkan sebuah majalah kebaya.
Salah Satu Hamparan Wilayah Di Kawasan SMMA Yang Terlihat Memprihatinkan,
Jakarta (02/10)
Peran serta masyarakat sekitar
dalam menjaga kelestarian kawasan SMMA sangatlah diharapkan. Karena salah satu
kerusakan kawasan dipicu oleh ketidakpedulian masyarakat sekitar sampai saat
ini, yaitu dengan seringnya membuang sampah di kali, menaruh perahu-perahu
sembarangan, dan bahkan merusak lahan. Berbagai cara telah dicoba untuk
memulihkan keadaan kawasan SMMA, namun belum terlaksana secara optimal karena
minimnya sumberdaya manusia dan partisipasi masyarakat. “Adanya peraturan
biasanya selalu membuat orang sering melanggarnya. Itulah sebabnya kawasan SMMA
tidak banyak diketahui oleh masyarakat sekitar. Hal tersebut dimaksudkan untuk
meminimalisasikan tingkat kerusakan kawasan dari pemanfaatan liar masyarakat
sekitar, tutup polhut tersebut (AO).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar