Rabu, 26 Februari 2014

INDRAMAYU, SI "KOTA MANGGA" : LESTARIKAN LEWAT KEGIATAN EKOWISATA



Mahasiswa IPB Dalam Kegiatan Penanaman Pohon Cemara Laut dan Kelapa,
 Pantai Indah Song, Indramayu (12/3)
Ratusan kendaraan setiap harinya selalu melintasi kota ini. Seakan hanya sebuah nama, mereka –para pengendara hanya berlalu begitu saja. Indramayu kota yang terkenal sebagai Kota Mangga ternyata juga memiliki kekayaan alam dan budaya yang menarik untuk dijadikan sebagai daerah tujuan ekowisata. Si kota mati –begitu masyarakat Indramayu menjulukinya akan mencoba hidup lewat kegiatan ekowisata yang berujung pelestarian.



Udara pagi ini terasa begitu sejuk. Setelah melewati jalur pantura –jalur utama dan terpadat di Pulau Jawa, salah satu keunikan dari Kota Indramayu nyata terlihat, yaitu satu rumah memiliki satu pohon mangga. Selain ditujukan untuk menjadi identitas kota, ternyata penanaman pohon mangga juga menjadi salah satu cara sederhana dalam upaya penghijauan di kota ini.  
Tugu Mangga yang melambangkan kota tersebut telah terlihat di depan mata, berarti perjalanan menuju Desa Karangsong hanya tinggal beberapa menit lagi. Meski terlihat seperti kota mati –sepi, namun kota ini begitu mengesankan. Melintas di depan bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial Belanda, tiba-tiba menimbulkan rasa ingin berkeliling dikawasan kota tua Indramayu. Tak lama kemudian, bau ikan asin yang sedang dijemur dan banyaknya kerajinan perahu dipinggir jalan telah menandakan bahwa perjalanan telah sampai tujuan.
Desa Karangsong merupakan salah satu desa di Kecamatan Indramayu yang berada di pesisir pantai. Desa ini diharapkan dapat menjadi pusat mangrove di Provinsi Jawa Barat, begitu isi pernyataan dari salah satu majalah online tahun 2012 tentang Desa Karangsong. Langkah kaki tertuju pada sebuah gedung sederhana –balai Desa Karangsong. Setelah bertemu dengan kepala desa dan menyantap bubur khas Indramayu, langkah kaki tertuju pada Pantai Indah Song. Luasnya hamparan tambak milik masyarakat, ratusan bebek berbaris rapi di pandu seorang pengangon, dan hiruk-pikuk keadaan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) merupakan pemandangan yang cukup menarik.
Pantai Indah Song merupakan salah satu pantai di pusat kota Indramayu. Meski memiliki potensi ekowisata, namun kawasan ini belum sepenuhnya dilirik oleh pemerintah untuk dikembangkan menjadi destinasi ekowisata. Walau demikian, masyarakat sekitar tidak putus asa, mereka mencoba menghidupkan Desa Karangsong melalui potensi budaya dan alam yang ada. “Jalinan kerjasama antara masyarakat, LSM, swasta, dan mahasiswa –yang kerap datang untuk melakukan praktik kerja lapang disini menjadi modal untuk membangun kegiatan ekowisata disini, khususnya untuk kegiatan ekowisata mangrove. Kalau tidak segera tersadar, potensi yang ada akan tergerus, hilang, dan punah, nok –dibaca nak”, ucap pak Jaedi –kepala Desa Karangsong.
Setelah membayar biaya masuk kawasan pantai sebesar Rp 3.000,-/ orang, kesibukan anak-anak yang mencari ikan dan biota laut lainnya, seperti bintang laut dan ubur-ubur banyak terlihat. Ombak dengan riang berlarian menciumi kaki muda-mudi yang bermain air, dan disisi kanan pantai terlihat aktivitas penanaman pohon, “sedang ada penanaman pohon cemara laut dan kelapa. Penanaman tersebut diharapkan dapat menghijaukan pantai dan menahan abrasi agar Pantai Indah Song ini tetap ada”, jelas pak Jaedi, ketika ada yang bertanya.
Sebelum berkunjung ke hutan mangove, pengunjung diminta untuk ikutserta dalam penanaman tersebut. Betapa senangnya, ketika salah seorang petugas mempersilahkan untuk memilih pohon yang ingin ditanam, “pilih sendiri nok pohonnya. Nanti setelah ditanam, pohonnya diberi nama sesuai dengan nama kalian sebagai kenang-kenangan”. Sebelum menanam terdapat sesi pemotretan dan pengisian buku tamu terlebih dahulu –sebagai tanda keikutsertaan dalam aktivitas ini. Sebuah senyum manis pun terukir diwajah saat pengabadian moment itu. Setelah menanam, kegiatan pun dilanjutkan dengan melewati jalan berlumpur yang kadang kala tergenang –harus menggunakan perahu kecil untuk menyebrang.
 
Selain hamparan hutan mangrove, keberadaan makhluk hidup lain seperti kepiting kecil, ikan glodok (Periophthalmus sp) –ikan unik yang hidup di darat dan air, burung air, dan udang bakau berhasil mencuri perhatian. Luas hutan mangrove yang ada di kawasan Pantai Indah Song ini adalah ± 15 ha dan terbagi menjadi dua, yaitu sebelah selatan seluas 7 ha yang dikelola oleh Kelompok Penggerak Pariwisata (KOMPEPAR) dan sebelah utara pantai seluas  8 ha dikelola oleh Kelompok Pantai Lestari Desa Karangsong dengan ± 300 ribu batang mangrove yang tersebar di seluruh wilayahnya. Menara pandang bertingkat tiga yang dipergunakan untuk memantau menjadi obyek yang selalu diserbu oleh pengunjung –karena pemandangan dari atas menara sungguh menakjubkan, tak kalah indah dengan pemandangan di pesisir pantai lainnya.
Jika ingin mencoba menanam mangrove, maka jangan segan-segan untuk mencobanya. Di Indramayu kegiatan seperti ini masih cukup langka, namun kegiatan dengan konsep ekowisata hijau di Pantai Indah Song akan terus dikembangkan dengan maksud, selain untuk wisata kegiatan tersebut juga dapat menambah pengetahuan, pengalaman serta menjaga kelestarian alam. Pernah ada pernyataan dari Ketua Program Officer Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) bapak Basuki Rahmad bahwa, “sasaran yang baik dan utama untuk kegiatan wisata Mangrove ini adalah anak-anak –khususnya pelajar. Hal tersebut dikarenakan mereka adalah stakeholder penting untuk masa depan”.
Ekowisata mangrove pun tersudahi, kegiatan berikutnya adalah menyantap kuliner khas Desa Karangsong –ikan pindang gombyang dan menu lainnya seperti, ikan bakar, cumi bakar, dan berbagai jenis olahan sea food lainya. Harga untuk menikmati kuliner khas Desa Karangsong itu adalah Rp 15.000,-/ porsi. Menu ini dapat dinikmati di warung-warung tepi pantai sembari melihat pemandangan.
Bagi yang hobi memancing, maka tidak perlu khawatir karena Desa Karangsong juga menawarkan kegiatan memancing ditengah laut yang dibagi menurut lama waktu dan jarak tempuhnya, pertama memancing dalam waktu setengah hari –jarak tempuh 2 mil s/d 20 mil dengan biaya Rp. 50.000,-/ orang –minimal 2 orang; kedua memancing dalam waktu 2 hari –mulai pukul 6 pagi s/d lusa pukul 8 malam. Jarak tempuh 40 mil dan beristirahat di Pulau Biawak dengan biaya Rp 2.500.000,-/ trip, maksimal 12 orang (sumber: data kuesioner nelayan yang mengikuti kegiatan wisata bahari, 2011). Jika hanya ingin berperahu, nelayan juga menyewakan perahu kecil untuk berkeliling sekitar pantai selama 20 menit.
Kegiatan dilanjutkan dengan menyusuri jalan utama Desa Karangsong untuk melihat pembuatan kapal kayu dari yang besar berukuran 40 GT sampai yang terkecil berukuran 2 GT. Puas berkeliling di Desa Karangsong, perjalanan dilanjutkan menuju desa tetangga, yaitu Desa Paoman. Desa Paoman terkenal sebagai pusat pengrajin batik khas Indramayu. Harga kain batik yang ditawarkan cukup bervariasi tergantung, motif, bahan dan cara pembuatannya, yaitu berkisar antara Rp. 60.000,- s/d Rp 2.000.000,-/ helai kain. Menyusuri perkampungaan dan berbelanja batik Indramayu, sungguh menyenangkan.
Tak terasa, sore pun tiba. Matahari senja kali ini terlihat begitu indah, kegiatan yang tepat untuk santai mengabiskan waktu adalah berkeliling kota tua Indramayu menggunakan becak dengan ongkos ±Rp 20.000 s/d Rp 25.000,-/ becak. Acara keliling naik becak dimulai dari pangkalan becak Pasar Mambo, lalu melewati alun-alun, bantaran kali Cimanuk, Vihara Dharma Rahayu Indramayu, gedung-gedung tua peninggalan kolonial Belanda –yang terlihat agak kumuh, tapi tetap memiliki kesan antik dan klasik, lalu kembali ke Pasar Mambo. Semua obyek yang dilewati seolah menyampaikan banyak cerita tentang sejarah perkembangan Kota Indramayu.
Kawasan kota tua Indramayu ini juga mendapat julukan sebagai daerah Pecinan karena rumah-rumah antik yang berada didaerah itu dulunya mayoritas dihuni warga keturunan Tionghoa. Saat melewati sebuah gedung tua, suara burung walet begitu nyaring terdengar. Gedung tua tersebut ternyata memang dijadikan sebagai sarang burung walet. “Keuntungan dari liur walet yang dijadikan sebagai obat lumayan, nok. Jadi dibiarkan begitu saja oleh si empunya”, jelas supir becak saat melintasi gedung itu.
Lampu-lampu jalan di Pasar Mambo –yang dulunya adalah pusat jajanan Kota Indramayu mulai menyala. Beberapa pedagang menggelar lapaknya dengan nuansa tradisional, yaitu lesehan dan ditemani lampu temaran. Akan terasa berada di Malioboro, tapi tempat ini adalah versi sepinya. Bagi pencinta fotografi disarankan untuk menyempatkan diri ke daerah Balongan –kilang minyak Pertamina yang berjarak ± 9 Km dari pusat kota Indramayu, karena saat malam tiba suasana ditempat tersebut mirip Las Vegas AS –begitu kata masyarakat sekitar.
Hm..perjalanan yang begitu mengesankan. Kegiatan ekowisata yang selalu dikaitkan pada tiga pilarnya, yaitu ekologi, ekonomi, dan sosial budaya itu telah terlaksana. Sebuah kata –pelestarian yang tidak hanya ditujukan pada alam, tapi juga pada budaya yang melekat di dalamnya dapat tersalurkan lewat kegiatan ekowisata seperti hari ini. Maka dari itu, kenali, cintai, dan lestarikan itu semua lewat kegiatan tersebut. (AO, 2012)

***