Mahasiswa IPB Dalam Kegiatan Penanaman Pohon Cemara Laut dan Kelapa,
Pantai
Indah Song, Indramayu (12/3)
Udara pagi ini
terasa begitu sejuk. Setelah melewati jalur pantura –jalur utama dan terpadat
di Pulau Jawa, salah satu keunikan dari Kota Indramayu nyata terlihat, yaitu
satu rumah memiliki satu pohon mangga. Selain ditujukan untuk menjadi identitas
kota, ternyata penanaman pohon mangga juga menjadi salah satu cara sederhana
dalam upaya penghijauan di kota ini.
Tugu Mangga yang
melambangkan kota tersebut telah terlihat di depan mata, berarti perjalanan
menuju Desa Karangsong hanya tinggal beberapa menit lagi. Meski terlihat
seperti kota mati –sepi, namun kota ini begitu mengesankan. Melintas di depan
bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial Belanda, tiba-tiba menimbulkan rasa
ingin berkeliling dikawasan kota tua Indramayu. Tak lama kemudian, bau ikan
asin yang sedang dijemur dan banyaknya kerajinan perahu dipinggir jalan telah
menandakan bahwa perjalanan telah sampai tujuan.
Desa Karangsong merupakan
salah satu desa di Kecamatan Indramayu yang berada di
pesisir pantai. Desa ini diharapkan dapat menjadi
pusat mangrove di Provinsi Jawa
Barat, begitu isi pernyataan dari salah satu majalah online tahun 2012 tentang Desa Karangsong. Langkah
kaki tertuju pada sebuah gedung sederhana –balai Desa Karangsong. Setelah bertemu
dengan kepala desa dan menyantap bubur khas Indramayu, langkah kaki tertuju
pada Pantai Indah Song. Luasnya hamparan tambak milik masyarakat, ratusan bebek
berbaris rapi di pandu seorang pengangon, dan hiruk-pikuk keadaan di Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) merupakan pemandangan yang cukup menarik.
Pantai Indah
Song merupakan salah satu pantai di pusat kota Indramayu. Meski memiliki
potensi ekowisata, namun kawasan ini belum sepenuhnya dilirik oleh pemerintah
untuk dikembangkan menjadi destinasi ekowisata. Walau demikian, masyarakat
sekitar tidak putus asa, mereka mencoba menghidupkan Desa Karangsong melalui
potensi budaya dan alam yang ada. “Jalinan kerjasama antara masyarakat, LSM,
swasta, dan mahasiswa –yang kerap datang untuk melakukan praktik kerja lapang
disini menjadi modal untuk membangun kegiatan ekowisata disini, khususnya untuk
kegiatan ekowisata mangrove. Kalau
tidak segera tersadar, potensi yang ada akan tergerus, hilang, dan punah, nok –dibaca nak”, ucap pak Jaedi –kepala
Desa Karangsong.
Setelah membayar
biaya masuk kawasan pantai sebesar Rp 3.000,-/ orang, kesibukan anak-anak yang
mencari ikan dan biota laut lainnya, seperti bintang laut dan ubur-ubur banyak terlihat.
Ombak dengan riang berlarian menciumi kaki muda-mudi yang bermain air, dan
disisi kanan pantai terlihat aktivitas penanaman pohon, “sedang ada penanaman pohon
cemara laut dan kelapa. Penanaman tersebut diharapkan dapat menghijaukan pantai
dan menahan abrasi agar Pantai Indah Song ini tetap ada”, jelas pak Jaedi,
ketika ada yang bertanya.
Sebelum
berkunjung ke hutan mangove, pengunjung
diminta untuk ikutserta dalam penanaman tersebut. Betapa senangnya, ketika
salah seorang petugas mempersilahkan untuk memilih pohon yang ingin ditanam,
“pilih sendiri nok pohonnya. Nanti
setelah ditanam, pohonnya diberi nama sesuai dengan nama kalian sebagai
kenang-kenangan”. Sebelum menanam terdapat sesi pemotretan dan pengisian buku
tamu terlebih dahulu –sebagai tanda keikutsertaan dalam aktivitas ini. Sebuah
senyum manis pun terukir diwajah saat pengabadian moment itu. Setelah menanam, kegiatan pun dilanjutkan dengan
melewati jalan berlumpur yang kadang kala tergenang –harus
menggunakan perahu kecil untuk menyebrang.
Selain hamparan hutan mangrove, keberadaan makhluk hidup lain seperti kepiting kecil, ikan glodok (Periophthalmus sp) –ikan unik yang hidup di darat dan air, burung air, dan udang bakau berhasil mencuri perhatian. Luas hutan mangrove yang ada di kawasan Pantai Indah Song ini adalah ± 15 ha dan terbagi menjadi dua, yaitu sebelah selatan seluas 7 ha yang dikelola oleh Kelompok Penggerak Pariwisata (KOMPEPAR) dan sebelah utara pantai seluas 8 ha dikelola oleh Kelompok Pantai Lestari Desa Karangsong dengan ± 300 ribu batang mangrove yang tersebar di seluruh wilayahnya. Menara pandang bertingkat tiga yang dipergunakan untuk memantau menjadi obyek yang selalu diserbu oleh pengunjung –karena pemandangan dari atas menara sungguh menakjubkan, tak kalah indah dengan pemandangan di pesisir pantai lainnya.
Jika ingin mencoba menanam mangrove, maka jangan segan-segan untuk mencobanya. Di Indramayu
kegiatan seperti ini masih cukup langka, namun kegiatan dengan konsep ekowisata
hijau di Pantai Indah Song akan terus dikembangkan dengan maksud, selain untuk
wisata kegiatan tersebut juga dapat menambah pengetahuan, pengalaman serta
menjaga kelestarian alam. Pernah ada pernyataan dari Ketua Program Officer Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) bapak Basuki Rahmad bahwa, “sasaran
yang baik dan utama untuk kegiatan wisata Mangrove
ini adalah anak-anak –khususnya pelajar. Hal tersebut dikarenakan mereka adalah
stakeholder penting untuk masa depan”.
Ekowisata mangrove
pun tersudahi, kegiatan berikutnya adalah menyantap kuliner khas Desa
Karangsong –ikan pindang gombyang dan menu lainnya seperti, ikan bakar, cumi
bakar, dan berbagai jenis olahan sea food
lainya. Harga untuk menikmati kuliner khas Desa Karangsong itu adalah Rp
15.000,-/ porsi. Menu ini dapat dinikmati di warung-warung tepi pantai sembari melihat
pemandangan.
Bagi yang hobi memancing, maka tidak perlu khawatir
karena Desa Karangsong juga menawarkan kegiatan memancing ditengah laut yang
dibagi menurut lama waktu dan jarak tempuhnya, pertama memancing dalam waktu
setengah hari –jarak tempuh 2 mil s/d 20 mil dengan biaya Rp. 50.000,-/ orang
–minimal 2 orang; kedua memancing dalam waktu 2 hari –mulai pukul 6 pagi s/d
lusa pukul 8 malam. Jarak tempuh 40 mil dan beristirahat di Pulau Biawak dengan
biaya Rp 2.500.000,-/ trip, maksimal 12 orang (sumber: data kuesioner nelayan
yang mengikuti kegiatan wisata bahari, 2011). Jika hanya ingin berperahu, nelayan
juga menyewakan perahu kecil untuk berkeliling sekitar pantai selama 20 menit.
Kegiatan dilanjutkan dengan menyusuri jalan utama Desa
Karangsong untuk melihat pembuatan kapal kayu dari yang besar berukuran 40 GT
sampai yang terkecil berukuran 2 GT. Puas berkeliling di Desa Karangsong,
perjalanan dilanjutkan menuju desa tetangga, yaitu Desa Paoman. Desa Paoman
terkenal sebagai pusat pengrajin batik khas Indramayu. Harga kain batik yang
ditawarkan cukup bervariasi tergantung, motif, bahan dan cara pembuatannya,
yaitu berkisar antara Rp. 60.000,- s/d Rp 2.000.000,-/ helai kain. Menyusuri
perkampungaan dan berbelanja batik Indramayu, sungguh menyenangkan.
Tak terasa, sore pun tiba. Matahari senja kali ini terlihat
begitu indah, kegiatan yang tepat untuk santai mengabiskan waktu adalah
berkeliling kota tua Indramayu menggunakan becak dengan ongkos ±Rp 20.000 s/d
Rp 25.000,-/ becak. Acara keliling
naik becak dimulai dari pangkalan becak Pasar Mambo, lalu melewati alun-alun,
bantaran kali Cimanuk, Vihara Dharma Rahayu Indramayu, gedung-gedung tua peninggalan
kolonial Belanda –yang terlihat agak kumuh, tapi tetap memiliki kesan antik dan
klasik, lalu kembali ke Pasar Mambo. Semua obyek yang dilewati seolah
menyampaikan banyak cerita tentang sejarah perkembangan Kota Indramayu.
Kawasan kota tua
Indramayu ini juga mendapat julukan sebagai daerah Pecinan
karena rumah-rumah antik yang berada didaerah itu dulunya mayoritas dihuni
warga keturunan Tionghoa. Saat melewati sebuah gedung tua, suara burung walet
begitu nyaring terdengar. Gedung tua tersebut ternyata memang dijadikan sebagai
sarang burung walet. “Keuntungan dari liur walet yang dijadikan sebagai obat
lumayan, nok. Jadi dibiarkan begitu
saja oleh si empunya”, jelas supir becak saat melintasi gedung itu.
Lampu-lampu
jalan di Pasar Mambo –yang dulunya adalah pusat jajanan Kota Indramayu mulai
menyala. Beberapa pedagang menggelar lapaknya dengan nuansa tradisional, yaitu
lesehan dan ditemani lampu temaran. Akan terasa berada di Malioboro, tapi
tempat ini adalah versi sepinya. Bagi pencinta fotografi disarankan untuk
menyempatkan diri ke daerah Balongan –kilang minyak Pertamina yang berjarak ± 9
Km dari pusat kota Indramayu, karena saat malam tiba suasana ditempat tersebut
mirip Las Vegas AS –begitu kata masyarakat sekitar.
Hm..perjalanan
yang begitu mengesankan. Kegiatan ekowisata yang selalu dikaitkan pada tiga
pilarnya, yaitu ekologi, ekonomi, dan sosial budaya itu telah terlaksana.
Sebuah kata –pelestarian yang tidak hanya ditujukan pada alam, tapi juga pada
budaya yang melekat di dalamnya dapat tersalurkan lewat kegiatan ekowisata
seperti hari ini. Maka dari itu, kenali, cintai, dan lestarikan itu semua lewat
kegiatan tersebut. (AO, 2012)
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar